haibunda.com – Jakarta – Pernah nggak Bun, menemukan anak kita pura-pura sakit demi menghindari sesuatu yang nggak disukai? Misalnya nih anak nggak suka ikut kegiatan belajar kelompok bareng temannya atau menghindari ulangan.

Seperti dituturkan sahabat HaiBunda, Tari, anaknya yang masih duduk di kelas 2 SD mengaku sakit. “Anak saya melogok-logok kerongkongan dengan jarinya biar muntah, setelah ibu dia bilang ke saya nggak bisa masuk sekolah karena habis muntah-muntah,” terang Tari.

Saat meminta izin tidak masuk sekolah, putri Tari memegangi perutnya sambil mengernyitkan kening menahan sakit. Tapi Tari nggak percaya begitu saja dengan ‘akting’ anaknya. Soalnya nih, sebelumnya anaknya baik-baik saja.

“Ternyata hari itu di kelas anak saya mau ada ulangan. Anak saya lupa kalau ada ulangan, jadinya dia pura-pura sakit,” sambung Tari.

Lalu apa yang dilakukan Tari? “Saya bilang ke anak saya, ‘Hayo kamu bohong kan, bunda tadi lihat kamu melogok-logok kerongkongan biar muntah. Ayo sekolah.’ Akhirnya anak saya berangkat sekolah, meski sambil nangis-nangis. Saya nggak mau di pura-pura mengalami sesuatu biar nggak melakukan hal yang disukai,” tutur Tari.

Dikutip dari Livestrong, beberapa anak memang bisa berpura-pura sakit sehingga dirinya bisa menghindari aktivitas tertentu seperti pergi ke sekolah atau pekerjaan rumah. Istilah yang merujuk pada kegiatan berpura-pura sakit adalah malingering.

Mirip dengan malingering adalah gangguan faktisi, di mana ini merupakan gangguan mental klinis, sehingga anak berpura-pura sakit untuk mendapat perawatan medis atau perhatian. Kalau gangguan faktisi sih jarang ya didiagnosis pada anak kecil, melainkan pada anak-anak sudah cukup besar. Kalau sejak dini sudah mengalami gangguan faktisi, biasanya saat dewasa juga bisa menyebabkan gangguan.

Hmm, kok anak-anak berani pura-pura sakit begitu ya? Untuk tahu sebabnya, tentu kita harus bicara dengan anak. Umumnya nih Bun, hal-hal yang bisa membuat anak nekat pura-pura sakit adalah karena akan menghadapi sesuatu yang bisa menyebabkan dirinya mengalami kecemasan. Misalnya di-bully di sekolah atau harus mempelajari hal-hal yang dirinya tahu nggak akan bisa melakukannya.

Kalau kita sudah memastikan bahwa anak-anak berpura-pura sakit, maka sebaiknya jangan berikan perhatian ekstra padanya. Selain itu kita dianjurkan untuk tetap mendorong anak melakukan hal yang seharusnya dilakukan meskipun anak mengklaim dirinya sedang sakit. Nah, kalau ternyata anak mampu menghadapi tantangannya dan nggak berpura-pura sakit, kita perlu lho menyampaikan apresiasi. Misalnya kita beri mereka hadiah dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan.

Dikutip dari WebMD, Donna Mazyck, seorang direkur di sekolah keperawatan menuturkan kegelisahan pada anak-anak umumnya meningkat saat akan menghadapi tes atau tantangan lainnya. Inilah situasi yang paling sering membuat anak berpura-pura sakit.

“Bisa jadi anak-anak mengalami kegelisahan atau ketakutan karena tes atau kelas yang sulit bagi mereka,” kata Mazyck.

Dia ingat benar ada seorang siswa di sekolah tempat dia bekerja yang akan mulai mengeluh sakit pada waktu yang sama. Kata Mazyck, keluhan itu selalu tepat muncul sebelum kelas matematika.

Nah, Bun, kalau anak sering banget pura-pura sakit, khususnya di sekolah, agar dibolehkan pulang ke rumah, kita perlu bicara dengan gurunya. Ini penting agar kita tahu apa yang terjadi pada anak kita di sekolah.

Sebenarnya sih lumrah ya kalau kadang-kadang anak pura-pura sakit untuk menghindari sesuatu. Tapi nih, kalau pura-puranya ini jadi kebiasaan tentu harus kita beri perhatian khusus ya. (vit/rdn)

oleh: Nurvita Indarini
Sumber: https://www.haibunda.com/aktivitas/d-3731610/ketika-anak-menghindari-sesuatu-dengan-berakting-sakit
Gambar: dreamstime.com