Oleh Munif Chatib

Pernahkah anda mengalami kondisi anak yang  membangkang hampir semua instruksi dari orangtuanya?  Tidak hanya itu. Si anak malah selalu melanggar aturan yang sudah disepakati. Dan jika kondisi hubungan anak dengan orangtuanya semakin genting. Si anak langsung menarik diri. Menjadi seorang yang bersikap tertutup dan pendiam. Mengapa kondisi ini terjadi?

Ternyata penyebab sikap anak terhadap orangtuanya, mirip hubungan timbal balik antara stimulus dan respon. Orangtua memberi stimulus, lalu anak meresponnya. Stimulus yang bersumber dari orangtua inilah yang dinamakan pola asuh. Sederhananya jika respon anak negatif, biasanya sumber penyebabnya dari stimulusnya atau pola asuh. Dengan kata lain respon anak tergantung dari stimulus atau pola asuh orangtuanya. Pola asuh itu interaksi timbal balik antara orangtua dengan anak untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikis anak. Menurut saya, pola asuh inilah kurikulum terpenting yang harus dipelajari oleh orangtua. Maklumlah menjadi orangtua tidak ada sekolahnya.

Dalam mempelajari pola asuh orangtua cukup mempelajari 3 BAB saja, selanjutnya secara alamiah orangtua akan mampu mengaplikasikanya. Bab pertama, adalah memahami beberapa pendekatan pola asuh. Kedua, memahami usia perkembangan anak. Ketiga, memahami keunikan masing-masing anak atau multiple intelligences anak. Artikel ini fokus kepada bab pertama, yaitu beberapa jenis pendekatan pola asuh.

Biasanya, teori yang sering dijadikan rujukan adalah dari psikolog dunia terkenal bernama Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya Developmental Psychology. Menurut Hurlock ada tiga jenis pendekatan pola asuh. Pertama, pola asuh OTORITER, yang mempunyai ciri-ciri orangtua menerapkan peraturan yang kaku, memaksakan kehendak kepada anaknya, dan orangtua adalah penentu isi kepala anaknya terutama dalam menentukan masa depannya. Anak tidak mempunyai kesempatan mengungkapkan pendapatnya. Pola asuh otoriter menyebabkan anak tertekan secara psikis, sulit mengambil keputusan, penakut, pendiam, tertutup, tidak mempunyai inisiatif, suka menentang, melanggar, dan selalu menarik diri.

Kedua, pola asuh PERMISIF, kebalikan dari otoriter. Orangtua longgar dalam memberikan peraturan. Membolehkan anaknya melakukan apa saja, bebas menurut keinginannya. Bahkan orangtua tidak perlu memberitahu perbuatan baik dan buruk berikut dampaknya kepada anaknya. Terjadinya pola asuh permisif ini biasanya disebabkan orangtua tidak memahami cara berinteraksi dengan anaknya atau menganggap anak dapat belajar dari lingkungannya dengan sendirinya (alamiah). Pola asuh permisif menyebabkan anak sulit dibimbing, mementingkan diri sendiri, agresif, tidak patuh, kurang mandiri, kurang percaya diri, dan anti sosial.

Ketiga, pola asuh DEMOKRATIS, orangtua memberikan aturan yang jelas, juga menjelaskan dan memahamkan akibat yang terjadi jika dilanggar, lalu dicapai kesepakatan dengan anak, bahwa peraturan tersebut harus dipatuhi. Anak diberikan kesempatan berpendapat dalam kesepakatan aturan dan konsekuensinya. Lalu orangtua tak lupa memberi apresiasi apabila anak mentaati peraturan. Jadi pola asuh demokratis ini mirip bermain layang-layang. Terkadang ditarik benangnya terkadang dilepas. Yang penting adanya kontrol dari orangtua. Pola asuh demokratis ini akan menyebabkan anak mempunyai kemampuan sosialisasi yang baik, memilii rasa percaya diri, mandiri, mentaati aturan, dan yang terpenting anak kita mampu mengendalikan stres.

Nah, dari tiga pendekatan pola asuh di atas yang terbaik adalah pola asuh demokratis, mengingat dampaknya untuk perkembangan psikis anak kita. Namun pertanyaan besarnya adalah bagaimana orangtua mampu menerapkan pola asuh demokratis tersebut? Ikuti tips praktisnya pada artikel berikutnya. Dan inilah implementasi sebenarnya menjadi orangtuanya manusia.

(Munif Chatib)

Sumber: https://c.uctalks.ucweb.com/detail/fd32f3eb58d645ba955f06e5bd51a22d?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut